Komunikasi Sosial Budaya Indonesia dan Karakter WNI Baru

by Andre Prima , at 2:12 PM , has 0 comments
Postingan ini merupakan salah satu tugas mahasiswa UT semester 7 mata kuliah PKn modul 9 Kegiatan Belajar 1, yaitu membuat makalah tentang Komunikasi Sosial Budaya Indonesia dan Karakter WNI Baru. Berikut penjelasannya.

Pendahuluan

Pendidikan karakter bangsa menjadi sangat penting karena dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sering muncul fenomena konflik sosial yang timbul dari keragaman dan perbedaan budaya. Disadari bahwa bangsa kita terdiri dari masyarakat yang beraneka ragam budaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan slogan “Bhineka Tunggal Ika”. Semangat “perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan” merupakan landasan pijak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, dalam perjalanannya setelah merdeka lebih dari 50 tahun, keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa ini mulai terusik dengan munculnya berbagai kerusuhan dan perselisihan yang sumbernya berasal dari perbedaan yang selama ini kita banggakan. Hal ini disebabkan antara lain karena menurunnya rasa saling hormat menghormati dan hilangnya semangat persaudaraan dan kekeluargaan sebagai bangsa Indonesia.

Kita harus bisa menerima bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam yang terdiri dari berbagai etnik, agama, budaya, adat istiadat yang berbeda, tetapi memiliki persamaan cita-cita dan tujuan hidup bersama dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KEGIATAN BELAJAR 1
KARAKTER WARGA NEGARA BARU INDONESIA
Karakteristik suatu masyarakat dan bangsa tercermin dalam karakteristik warga negaranya. Dengan demikian, membangun suatu masyarakat dan bangsa tidak terpisahkan dari upaya membangun karakter warga negaranya.

Kemajuan IPTEK, terutama dalam teknologi komunikasi, menyebabkan hubungan antarbangsa di dunia menjadi sangat terbuka. Tidak ada lagi suatu negara atau daerah di dunia ini yang terisolasi. Ini menimbulkan globalisasi dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang ekonomi kita mengenal adanya perdagangan bebas, dalam bidang politik adanya keterbukaan yang cenderung mengarah ke sistem demokrasi yang sangat liberal, dan dalam bidang kebudayaan yang sedang melanda dunia saat ini, yaitu terjadinya proses pembudayaan global, dimana pengaruh budaya dari negara luar menjadi sangat besar.

Pendidikan mempunyai peran yang sangat sentral untuk membangun manusia Indonesia atau warga negara Indonesia yang mampu survive dalam derasnya arus globalisasi tanpa menanggalkan tata nilai budaya bangsa yang luhur.

HAR Tilaar (1998) mengemukakan bahwa masyarakat yang kita cita-citakan adalah masyarakat Teknologi, masyarakat terbuka dan masyarakat madani. Berdasarkan pendapat HAR Tilaar tersebut maka masyarakat yang kita cita-citakan adalah masyarakat demokratis yang individunya bebas dari rasa takut, bebas untuk berkreasi dan terbuka. Masyarakat yang menghargai adanya perbedaan yang didasari oleh rasa kebersamaan, penghargaan pada sesama warga negara tanpa memandang perbedaan suku, agama dan budaya. Seorang warga negara Indonesia adalah warga negara yang dapat hidup dalam satu komunitas yang beragam, dan penuh perbedaan, tetapi memiliki kesamaan, yaitu persamaan derajat sebagai mahluk Tuhan dalam mencapai tujuan bersama, yaitu masyarakat yang adil dan makmur.

Untuk mencapai cita-cita masyarakat madani seperti itu, di perlukan manusia yang menghargai perbedaan dan dapat hidup bersama dalam suatu perbedaan ( unity in diversity ), yaitu warga negara yang dapat hidup dan mengahargai perbedaan budaya, agama dan etnis. Warga negara seperti ini, adalah warga negara Indonesia yang dapat hidup di segala ragam budaya atau barang kali sebutan yang di kemukakan oleh Deddy Mulyana, yaitu “Manusia Antarbudaya”, yaitu seorang warga negara yang mencintai sesama warga negara tanpa memandang latar belakang sosial budaya.

Gurdy Kunst & Kim  (Deddy,2000: 233) menjelaskan bahwa “manusia antar budaya adalah orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam proses antar budaya yang kognisi, efeksi dan prilakunya tidak terbatas, tetapi berkembang melewati parameter-parameter psikologi sesuai budayanya. Ia memiliki kepekaan budaya yang berkaitan dengan kemampuan berempati terhadap budaya tersebut”.
Selanjutnya Deddy mengemukakan istilah lain yaitu “manusia multi budaya” yang di kutip dari pendapatnya Adler bahwa manusia multi budaya adalah orang yang identitas dan loyalitasnya melewati batas-batas kebangsaan dan komitmennya berkaitan dengan suatu pandangan bahwa dunia ini adalah suatu komunitas global. Ia adalah orang yang secara intelektual dan emosional terikat pada kesatuan fundamental”.

Berdasarkan beberapa definisi atau pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia antarbudaya memiliki ciri-ciri yaitu hidup dalam suatu masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai ragam latar belakang sosial budaya, dia menyadari bahwa dia bukan saja sebagai warga suatu negara, tetapi juga sebagai warga dunia ( warga dari suatu masyarakat global ), serta menghargai dan menghormati warga yang berbeda latar belakang sosial budayanya dengan mengembangkan sikap dan kesadaran empati.

Inti dari manusia antarbudaya adalah warga negara Indonesia yang:
1.    Memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku yang tidak terbatas pada budaya tertentu;
2.    Dapat hidup dalam masyarakat majemuk yang memiliki keragaman budaya;
3.    Menghargai dan menghormati budaya yang beraneka ragam.

Motto hidup yang mencerminkan manusia antarbudaya, yaitu “di mana bumi di pijak di situ langit di junjung”, artinya setiap warga negara harus menghormati dan mengahargai budaya masing-masing di mana mereka tinggal.Motto lain adalah “ silih asah silih asih dan silih asuh “, ini mengandung makna bahwa warga negara Indonesia harus saling mengembangkan, saling menyayangi dan saling membina tanpa membedakan perbedaan budayanya.

Pakar lainnya, yaitu DeVito, mengemukakan ciri-ciri manusia antarbudaya. Bahwa seorang manusia antarbudaya memiliki ciri-ciri berikut.
1.    Keterbukaan
2.     Empati
3.    Sikap mendukung
4.    Sikap positif
5.    Kesetiaan
6.    Percaya diri
7.    Kedekatan ( immediacy )
8.    Manajaman interaksi
9.    Reorientasi pada pihak lain
10.    Daya ekspresi

Margaret S. Branson, dkk (1999:180) mengemukakan tentang karakter warga negara (civic disposition), karakter adalah sikap atau kebiasaan pikiran warga negara yang kondusif bagi berfungsinya dan kelangsungan sistem demokrasi. Beliau mengaitkan karakter warga negara ini dengan sistem demokrasi di Amerika. Dalam kaitan dengan komunikasi antarsosial budaya rasanya pendapat Margaret S. Branson ini sangat relevan karena pertama kita bangsa Indonesia sedang belajar berdemokrasi, dan kedua karakter warga negara tersebut cocok dan relevan dengan manusia antarbudaya, pada dasarnya demokrasi adalah landasan untuk melakukan komunikasi antarsosial budaya. Menurutnya karakter warga negara adalah sebagai berikut.
1. Keadaban (civility)
2. Tanggung jawab individu dan kecenderungan untuk menerima tanggung jawab pribadi dan konsekuensi tindakan pribadi.
3. Disiplin diri dan penghormatan peraturan-peraturan untuk pemerintahan konstitusional tanpa perlu paksaan dari otoritas eksternval
4. Rasa kewargaan (civic mindedness) dan kehendak untuk mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi.
5. Kemampuan untuk kompromi, menyadari bahwa nilai dan prinsip kadang-kadang saling bertentangan karena pengakuan bahwa tidak semua nilai dan prinsip bisa dikompromikan karena kadang-kadang kompromi bisa mengancam kelangsungan demokrasi.
6. Toleransi terhadap keagamaan.

Kita harus tetap menyadari bahwa kita berbeda, secara individu kita berbeda baik fisik, jenis kelamin, tinggi badan maupun warna kulit, secara budaya juga berbeda, baik etnik, agama, bahasa dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan ini, ada dua karakter warga negara indonesia yang perlu dipahami betul, yaitu simpati dan empati.
Milton J. Bennet (Deddy, M. Ed, 2000), menjelaskan tentang pentingnya simpati dan empati sebagai karakteristik warga negara.
1. Simpati
        Simpati adalah strategi komunikasi yang tepat untuk menjalin komunikasi antarbudaya. Bannet mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan simpati adalah “menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang lain”. Simpati tidak berarti mengambil peran orang lain atau membayangkan pikiran orang lain. Tetapi kita membayangkan dapat berfikir atau merasakan dalam situasi yang sama seperti orang lain.
2. Empati
        Menurut Bennet, empati adalah “partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain”. Simpati menekankan pada penempatan diri secara imajinatif pada posisi orang lain. Sedangkan empati menekankan pada partisipasi secara emosional dan intelektual pada pengalaman orang lain.
3. Good Governance
        Untuk menciptakan masyarakat yang damai, kreatif dan terbuka harus diwujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, masyarakat yang mandiri dan kreatif dan masyarakat swasta yang bertanggung jawab dan terbuka yang disebut Good Governance. GG terdiri dari dua istilah yaitu good dan governance, yang artinya baik dan kepemerintahan, yaitu pemerintahan yang baik. Karakteristik dari Good Governance seperti berikut.
a) Partisipasi, semua warga negara berhak terlibat dalam pengambilan keputusan, baik langsung ataupun melalui p[erwakilan yang sah untuk mewakili kepentingan warga negara.
b) Penegakan the rule of law, yaitu partisipasi warga negara dan masyarakat dalam proses politik dan perumusan kebijakan publik memerlukan sistem dan aturan hukum.
c) Transparasi, (keterbukaan)
d) Akuntabilitas, (pertanggung jawaban)
e) Fairness, (keadilan)
f) Responsibilitas, (pertanggungjawaban korporat secara bijaksana)
g) Responsivitas, (kepekaan)
h) Konsensus, (pengambilan keputusan melalui proses musyawarah)
i) Efektivitas dan efisiensi.
Andre Prima
About
Komunikasi Sosial Budaya Indonesia dan Karakter WNI Baru - written by Andre Prima , published at 2:12 PM, categorized as Pendidikan . And has 0 comments
0 comments Add a comment
Bck
Cancel Reply
Copyright ©2013 MARIOATHA BLOG
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger